17 Juli 2008

Saving Enviromet Through Faith

Social transformation can begin with waste management, a Catholic priest believes. With this belief, he focuses his pastoral duties on guiding people's garbage habits.

From a Driyarkara School of Philosophy's student lodging in Central Jakarta, where he acts as head of the dorm, Father Andang Binawan tells The Jakarta Post about his simple idea. "Garbage is an entry point to a concern for something bigger. From there we can achieve good waste management, a healthy environment and an inclusive, pluralistic society," he says.

The 47-year-old is sitting in the front room wearing a black shirt with light brown trousers. His hair is black and thick, which suits his firm but soft voice. Andang Binawan became the Jakarta bishop's environmental specialist two years ago. The church incorporated an environmental section in their program in 2006, focusing on solid waste management, appointing Andang as coordinator.

Andang teaches at the Driyarkara School of Philosophy. "My background is actually not in the environment. My discipline is Catholic law and human rights. However, since I have been appointed (to focus on environmental issues), I have studied more about the environment," he says. His program focuses on changing people's waste management habits.

"First is to make people put garbage in the right place; second is to make people separate their garbage into organic and inorganic waste; and third is to make people compost their organic waste by building biopores or using other composting techniques," he says.

After two years of campaigning for the environment, the student lodging now has a green and shady garden. Plant pots from water bottles line the fence. "We use our own compost from our organic waste," he said. Andang has always had an interest in nature, especially plants, since he was a child. He says that he likes gardening and learned to make compost in elementary school.

Caring for the environment is in line with the Catholic value of compassion. "It is different from feeding the poor or sending a child to school or giving clothes to victims of disaster, as you don't see the people you help (when doing the charity work). But caring for the environment means compassion for the next generation," he says.

He set up a church youth group called Gropes, which is short for Gerombolan Pencari Sampah (Garbage Seeker Gang), and has asked churches in Jakarta to encourage their congregations to manage their waste properly. His efforts do not stop there.

Learning that about 15.3 percent of Jakarta's 27,633 cubic meters of garbage, which is around 6,000 tons a day, is thrown along streets, in parks and rivers, the priest realized he would need a lot of help to clean up the city. So he gathered together other religious-based groups to work together on solving Jakarta's garbage problem, forming an alliance called Faith Movement to Care for Jakarta (Gempita).

The groups include Maarif Institute, Wahid Institute, Clean and Healthy Life Movement, Lantan Bentala Foundation, Interfaith Dialog Society, Indonesia Institute for Pluralism, the Nadhatul Ulama and Muhamadiyah youth groups, the Kemang Pratama Indonesian Christian Church and others.

"It is impossible to work alone in changing people's habits. If I worked alone, I would just get frustrated. That is why we should work together," he says. "Faith in religious values is a powerful driving force. And Indonesia is a very religious country. Assuming that each religious group already has values to care for the environment, it will be easier to change people's habits toward the environment through religion," he says.

He says that this is where garbage enters the scene, as everyone, regardless of their religious affiliation, produces garbage. Andang says that human behavior is one aspect that religion deals with. "As religious values are connected to human behavior, religion can help social change by guiding human beings to more civilized behavior." Launched in May 2008, Gempita is working on a joint program. "Hopefully in August we will have training on waste management for members.

"Working together can make everyone more spirited in tackling the program. We can also share experiences on how each group attempts to manifest their values on caring for the environment," he says. Amidst the rise of religious fundamentalism in Indonesia, Gempita is a fresh development that promotes inclusiveness and plurality. "Fighting against the same enemy, which is environmental damage, can help religious groups to live and work harmoniously together," Andang says. (Jakarta Post, 17 Juli 2008)

11 Juli 2008

Dari Sampah Lahirlah Bisnis

Sebuah kampung kecil yang berlokasi di belakang pembangkit listrik PLN Jatirangon, Bekasi, Jawa Barat, ternyata menyimpan keistimewaan. Perkampungan yang bisa ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari terminal Lebak Bulus di Selatan Jakarta ini dinaungi pepohonan hijau sehingga memberi udara segar. Di tempat itu, terlihat drum-drum kaleng berisi sampah berwarna biru bertuliskan: ‘Sampah Organik Mittran Daur Ulang’. Inilah wadah awal yang dirintis oleh Rumah Perubahan.

Pagar kayu cokelat besar bertuliskan “Rumah Perubahan” (RP) menyambut di salah satu sudut rumah yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas pendaur ulang sampah. Tampak pula pohon jati berumur sekitar dua tahun setinggi kurang lebih enam meter, yang berjejer rapi ditanam sebagai salah satu pagar alam. Hijau dan mulai rindang. Pohon durian, rambutan, dan kelapa turut meneduhkan halaman RP. Tempat ini dirintis oleh Rhenald Kasali, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Belakangan, Rhenald bukan hanya rajin menulis buku, tetapi juga aktif menyuarakan sampah. Rupanya, sang empunya sudah menunggu di salah satu gedung yang baru sebulan ini rampung, gedung yang disebutnya Power House.

“Dari zaman dulu yang namanya bisnis beranjak dari masalah. Bagi orang yang mengerti bisnis, setiap masalah adalah kesempatan, dan setiap ada kemajuan pasti ada masalah,” Rhenald membuka obrolan. “Kita melihat sampah sebagai masalah. Masalah bagi yang buang dan masalah bagi yang rumahnya kebanjiran,” katanya. Padahal, ia melanjutkan, “Di dalam sampah tersimpan sumber energi yang berasal dari gas metan. Kita membuat teknologi yang dikerjakan sendiri oleh anak-anak kita dan tetangga-tetangga kita. Di sini karyawan saya 20 orang. Usaha ini berbasis komunitas,” Rhenald memaparkan dengan semangat.

Dijelaskannya, sebelum ini di daerah itu ada koperasi. Tetapi karena kendala teknis, koperasi ini tidak berjalan sesuai harapan. “Tidak berjalan karena pengurusnya tidak tetap. Sekarang kami remajakan melalui wadah rumah perubahan,” ujar penulis buku Recode DNA ini. Nantinya, ia berharap, akan ada banyak program turunan yang bisa dijalankan oleh koperasi. Sampah yang setiap hari diangkut dari tempat sampah penduduk kemudian diolah menjadi biomassa dan kompos. “Bisa dilihat, setiap lima rumah ada satu drum sampah organik yang berasal dari rumah perubahan. Mereka (penduduk) membayar Rp 30 ribu per lima rumah. Berarti tiap rumah hanya mengeluarkan Rp 6 ribu. Setiap hari sampahnya kami angkut dengan mobil-mobil kecil dan langsung diolah,” ujar Rhenald menjelaskan. ”Kalau di perumahan mewah mereka mau bayar Rp 25 ribu/bulan. Sehingga, kami bisa menggaji anak-anak putus sekolah yang membantu di sini, sopir, petugas yang mengelola mesin dan yang nge-press,” katanya menambahkan.

Sekadar gambaran, biomassa yang dihasilkan banyak dipesan oleh sektor industri. Saat ini harga biomassa hanya 1/3 batubara sehingga membuat pelaku industri mulai beralih ke energi alternatif ini. Inilah peluang di depan mata bagi pengusaha biomassa. “Mesinnya dibuat oleh UKM-UKM yang kami bina. Yang kerja di sini adalah anak-anak putus sekolah, mantan napi, dan tenaga-tenaga yang tidak punya keterampilan,” jelas ayah dua putera ini.

Tak hanya itu. RP juga melatih cara memisahkan plastik yang memiliki 20 jenis tekstur. “Kalau sudah terlatih sambil mata merem juga bisa. Plastik ini bisa diolah menjadi lahan ekonomis. Harganya Rp 2 ribu/kilogram,” ungkap Rhenald. Agar mandiri RP membuat mesin pemisah plastik sendiri. “Mesinnya tidak ada namanya, ya kami sebut sebagai mesin rumah perubahan saja,” ujar Rhenald berseloroh.

Cita-cita RP adalah Indonesia yang bersih dan sehat. Rhenald percaya, perubahan akan terjadi karena ada kegiatan ekonomi. “Sejauh ini masyarakat sekitar mendukung, tapi ada satu-dua orang yang antipati karena mereka belum mengerti,” katanya. Menurut Rhenald, jika masyarakat mendapatkan keuntungan dari sebuah perubahan yang berbasis komunitas, maka secara alamiah mereka pasti mendukung. “Ini punya masyarakat, bukan milik Rhenald Kasali,” katanya tegas.

Sampah yang diolah di sini, 80% menghasilkan biomassa dan 20% menjadi kompos. Program pengolahan sampah menjadi kompos, disebutkan Rhenald, akan menurunkan banyak program, antara lain bidang pertanian, seperti kebun sayur, tanaman hias, dan menanam padi. RP berusaha memaksimalkan semua yang berasal dari sampah, termasuk belatung yang dapat dijadikan tepung untuk makanan ikan. Sektor wisata juga diliriknya karena dapat memaksimalkan potensi sawah, farmer’s market, dan pemancingan. Semua potensi tersebut ia rencanakan akan masuk ke dalam program outbound berbasis pelatihan dan wisata. “Kami kerja sama dengan radio untuk mempromosikan hari panen di rumah perubahan. Jadi, siapapun bisa belanja ke rumah perubahan,” tutur Rhenald.

Saat ini RP memiliki tiga program utama, yaitu pelatihan, budidaya, dan kebudayaan. Pelatihan memiliki dua program, yaitu change dan entreprenuership. Program entrepreneurship memiliki cabang lagi, yaitu program menanam tanaman hias, ikan hias, sayur, bunga potong, anggrek, kaktus, dan ikan. Sementara program budidaya yang sudah berjalan adalah budidaya pohon jati. “Kami jual bibit jati kurang lebih Rp 35 ribu/bibit,” ungkapnya. Sedangkan program kebudayaan yang akan diretas -- salah satunya -- adalah wisata outbound.

“Hadirnya rumah perubahan harus bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Kami mulai dari sekitar sini. Di sini akan ada pelatihan-pelatihan untuk berubah. Kami akan melatih orang untuk berwirausaha. Termasuk membangun jejaring. Kami juga melatih bagaimana caranya agar orang-orang bisa bankable,” ujarnya. Memang, Rhenald menekankan agar sebuah usaha visible, maka harus dilatih secara administratif agar sesuai dengan keinginan pihak bank. Misalnya, bagaimana membuat pembukuan yang benar. “Jadi, jangan mengeluh sajalah bangsa ini. UKM mengeluh tidak dapat kredit dari bank. Itu karena UKM-nya tidak bankable. Maka, di sini menjadi tempat pertemuan untuk melatih orang. Kalau melatih orang tentu saja tidak seluruhnya sosial, tapi ada pula biayanya. Misalnya, perusahaan yang karyawannya mau pensiun, bisa mengirimnya ke sini untuk diberi beberapa pelatihan,” tutur Rhenald menjelaskan. (Majalah Human Capital, Juni 2008)